Rabu, 30 Maret 2011

Kelompok Musik dan Kelompok Belajar Sekolah

Yupz... judul di atas sama-sama mengandung makna "dilakkan secara bersama-sama", namanya juga kelompok.
Namun berdasarkan pengalaman saya bergabung di kelompok musik, baik dalam jumlah kecil (grup band), jumlah menengah (chamber orchestra), maupun jumlah besar (maching band), ternyata pengertian kelompok amat sangat berbeda dengan dengan pengertian kelompok belajar di sekolah.
Di sekola, kita dituntut untuk bisa pandai secara individu. Guru seringkali hanya berusaha membuat kita pandai, namun secara individu. Sehingga di sekolah, jika kita pandai, maka kepandaian itu seringkali untuk diri sendiri. Jika ada kelompok belajar pun, terkesan hanya sebagai belajar bersama. Namun kepandaian tetap milik individu, sebagai anugerah Alloh SWT.
Di dalam kelompok musik, yang dimaksud dengan kelompok adalah bagaimana bisa memainkan lagu, komposisi, aransemen dalam satu kesatuan. Maksudnya, dalam kelompok kecil (grup band) misalnya, ada 5 orang, maka kelima orang tersebut memiliki pattern permainan yang berbeda-beda. Nah, dengan bermain musik secara berkelompok, diharapkan akan jadi paduan musik yang terdengar indah dengan harmoni.
Jadi... Jangan pernah Egois dalam bermusik.

Minggu, 20 Maret 2011

Asal Mula Sol Mi Sa Si

Pasti semua mengenal solmisasi yang diucapkan dengan lafal Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, Si, Do. Solmisasi tersebut diucapkan sesuasi dengan susunan tangga nada mayor, yang memiliki jarak nada 1-1-1/2-1-1-1-1/2.
Do ke Re berjarak 1 laras, Re ke Mi berjarak 1 laras, Mi ke Fa berjarak 1/2 laras, Fa ke Sol berjarak 1 laras, Sol ke La berjarak 1 laras, La ke Si berjarak 1 laras, dan Si ke Do berjarak 1/2 laras.
Bisa dibayangkan, seandainya tidak ada solmisasi seperti itu, bagaimana kita bisa memainkan musik, ataupn menyanyikan lagu. Jangankan menyanyikan lagu. Untuk menulis lagu saja pasti susah sekali.
Yang memiliki ide untuk membuat solmisasi tersebut pada awalnya adalah seorang Rahib dari ordo Benediktin yang bernama Guido dari Arezzo. Rahib tersebut berusaha untuk mengajarkan solmisasi yang pertama kali ditemukan, kepada murid-muridnya untuk menghafalkan lagu-lagu rohani.
Namun, solmisasi yang saat itu dibuat tidaklah seperti sekarang ini. Solmisasi yang dibuat Rahib tersebut hanya berjumlah 6 nada yang terdiri dari Ut, Re, Mi Fa, Sol, La. Kata-kata solmisasi tersebut diambil dari suku kata pertama dari mnemonis yang dibuat oleh rahib tersebut, yaitu:
  • Utqueant laxis
  • Resonare fibris
  • Mire gestorum
  • Famuli tuorum
  • Solve pollutis
  • Labiis reatum
Nah, begitulah asal dari Solmisasi.
sumber: gema sabda

Jumat, 18 Maret 2011

Perlu Koneksi Internet yang Lebih Baik, Maaf...

Saat ini admin hendrimusic sedang bertugas di Borneo Island, di sebuah pedalaman yang ternyata koneksi internet dibilang cukup sulit. Jadi mohon maaf saya sampaikan kepada para pengunjung yang sudah menyempatkan diri mengunjungi blog, namun kok tidak ada update.
Bukan tidak ada, namun belum ada.
Maaf sekali lagi...

Selasa, 01 Maret 2011

Dangdut? Tarik Boz......


Beberapa kebanyakan di antara kita mungkin menganggap bahwa Dangdut dengan ciri khas suara ketipung, merupakan jenis musik kampungan yang sama sekali tidak ada unsur musikalitas yang berarti. Menurut saya anggapan itu tidak sepenuhnya salah, jika yang menganggap adalah orang yang mengamati musik dangdut yang sekarang ini beredar.
Namun jika Anda memperhatikan musik Dangdut era tahun 90 an dan sebelumnya, maka mungkin Anda akan berpendapat sebaliknya. Coba perhatikan sisi musikalitas penyanyi dan pemain Dangdut seperti Rhoma Irama, Ikke Nurjanah, Evie Tamala, dll.
Soneta yang merupakan Band Dangdut legendaris selalu menyuguhkan pattern - pettern musik yang sebenarnya rumit dan bahkan mungkin selevel dengan pattern musik rock yang bisa dibilang rumit. Struktur musik yang dibangun pun cukup kuat. Bagaimana Soneta menyajikan intro dengan pattern yang sangat berbeda dengan batang lagu, interlude, chorus, ending.

Bisa dilihat juga musik - musik yang digunakan oleh Ikke Nurjanah atau Evie Tamala. Rasanya jauh lebih berkualitas daripada musik Dangdut sekarang. Seolah- olah pada jaman tersebut, musik dangdut menyajikan dinamika musik yang bisa memainkan emosi pendengarnya. Jauh dengan musik dangdut sekarang ini, yang hanya terkesan menampilkan musik yang keras, tanpa dinamika, lebih-lebih hanya menampilkan lekuk tubuh penyanyi dengan suara yang sama sekali tidak memadai.

Namun jika Anda lebih jeli, keunikan Dangdut adalah saat mencoba bagaimana menulis vocal Dangdut dalam bentuk notasi. Bagaimana menuliskan cengkok dangdut dalam bentuk notasi?
Nah, cukup sulit bukan?